Naypyitaw – Otoritas Myanmar memberlakukan kembali langkah tegas untuk mengendalikan penyebaran Virus Corona (COVID-19) setelah melaporkan kenaikan kasus beberapa waktu terakhir. Otoritas setempat menghentikan sementara seluruh penerbangan domestik dan melarang perjalanan keluar dari Yangon , kota terbesar di Myanmar.

Seperti di lansir dari detik.com, jumat, (11/9/2020). Peningkatan kasus Corona dimulai pada Agustus lalu, di wilayah Rakhine bagian barat dan menyebar luas ke wilayah lainnya. Myanmar sebelumnya tampak telah terhindar dari pandemi Corona yang merajalela secara global.

Otoritas kesehatan setempat telah memerintahkan lockdown sebagian di sedikitnya 29 wilayah dari total 44 wilayah yang ada di Yangon. Pembatas jalan dipasang di sebagian kota Yangon mulai Jumat (11/9) waktu setempat, dengan beberapa ruas jalan kecil ditutup sedangkan ruas jalan besar tetap dibuka. Sebagai pusat komersial Myanmar, kota Yangon diketahui menjadi pusat transportasi dan titik transit.

“Beberapa orang mungkin berpikir bahwa aturan dan regulasi ini terlalu membatasi,” ucap pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi , dalam pernyataannya.

“Namun, jika kita semua mematuhi pembatasan ini dengan ketat selama dua atau tiga pekan, kita bisa sampai pada situasi saat penyakit ini akan bisa dikendalikan,” imbuhnya.

Kementerian Kesehatan Myanmar, pada Jumat (11/9) waktu setempat, melaporkan 115 kasus baru Corona. Dengan tambahan itu, total 2.265 kasus Corona kini terkonfirmasi di wilayah Myanmar, dengan 14 kematian.

Pemerintah daerah Yangon secara terpisah menyatakan jumlah kasus penularan lokal di wilayahnya sejak 24 Agustus hingga Selasa (8/9) waktu setempat, mencapai 656 kasus. Perintah tetap-di-rumah diberlakukan untuk sebagian wilayah Yangon sepanjang bulan ini.

Kemudian untuk seluruh wilayah Rakhine pada Agustus, menyerukan lockdown sebagian, dengan pembatasan perjalanan.

Penghentian sementara seluruh penerbangan domestik menyusul upaya pelacakan ribuan orang yang terbang dari Rakhine sejak 10 Agustus. Hanya separuh dari orang-orang itu yang telah melaporkan diri ke otoritas terkait. Dalam upaya tidak biasa untuk melacak orang-orang tersebut, nama-nama mereka diterbitkan pada surat kabar lokal.

Suu Kyi dalam pidatonya memperingatkan keseriusan situasi pandemi Corona di Myanmar. Dia menekankan bahwa angka penularan dan angka kematian bertambah lebih cepat dibandingkan pada Maret dan April saat Corona pertama terdeteksi di Myanmar.

“Hal lain yang saya perhatikan adalah di antara mereka yang terinfeksi, beberapa adalah remaja. Itulah mengapa kita harus memahami bahwa COVID tidak membeda-bedakan apakah Anda tua atau muda, apakah Anda memiliki masalah kesehatan atau tidak,” tandasnya.(*)