Blitar, Lintas7news- Sebutan negara agraris dan maritim sejak dulu disematkan untuk Indonesia. Namun sampai saat ini ada ironi ketika negara justru melakukan impor hasil pertanian seperti yang sudah pernah terjadi. Melihat fenomena tersebut, ketua Gapoktan Kabupaten Blitar Suprans saat di temui di Kedai Tengwe mengatakan(15/9) bahwa saat ini petani selalu di rugikan dalam hal panen karena hasil pertanian selalu dihargai di bawah harga. Bahkan tidak menutup kemungkinan petani bahkan merugi. ” Sangat ironis memang petani saat ini, seharusnya para petani bisa sejahtera tetapi kenyataanya banyak yang terpuruk,” ujarnya Suprans. Para petani yang ada di Kabupaten Blitar khususnya, saat ini masih banyak yang jauh dibawah sejahtera. Selain permasalahan bibit, pupuk serta obat. Petani juga masih terkendala dengan harga pasar yang tidak melihat dari biaya produksi pertanian. Harga hasil panen cenderung di mainkan oleh pedagang spekulan yang selalu menekan harga di tingkat para petani untuk di beli dengan semurah mungkin. Petani tidak mampu untuk menentukan harga sebagai pengganti produksi, sehingga banyak petani yang rugi akibat hasil panen yang selalu di beli dibawah harga. ” Banyak petani yang saat ini tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap harga yang di tetapkan oleh pedagang spekulan yang membeli hasil pertanian selalu dibawah harga. Untuk bisa meningkatkan hasil kesejahteraan petani maka petani harus bisa menentukan harga hasil pertaniannya sendiri,” lanjutnya. Suprans juga menambahkan, bahwa saat ini dirinya akan fokus untuk melakukan pembenahan terhadap organisasi secara administratif dulu. Setelah itu akan membuat program dalam hal swadaya mandiri dalam hal bibit, pupuk dan obat. Serta mengembangkan jasa koperasi petani dengan sistim barter.(AN)