JAKARTA – Pemilu presiden Amerika Serikat (AS) bukan hanya menjadi perhatian rakyat di Negeri Paman Sam semata. Tapi, penduduk di berbagai belahan dunia juga memberikan perhatian kepada Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden dan calon petahanan Presiden Donald Trump.

Seperti di lansir dari sindonews.com (30/10/2020) Dunia berpikir kalau Biden akan mengonsolidasikan aliansi AS dalam menata tatanan dunia jika memenangkan pemilu presiden. Sedangkan Presiden Donald Trump cenderung akan melanjutkan kebijakannya yang telah mengubah tatanan dunia dan menjauhkan AS dari aliansinya. Siapa yang terpilih memenangkan pemilu AS bulan depan akan mempengaruhi tatanan dunia dan perkembangan geopolitik yang berdampak pada banyak negara di dunia.

Biden segera akan berkonsultasi dengan sekutu utama AS sebelum memutuskan kebijakan luar negeri. Dia juga akan berkoordinasi tentang keputusan kebijakan perang dagang dengan China. Itu dikarenakan Biden ingin memperkuat perlawanan terhadap Beijing jika dia terpilih sebagai presiden. Biden juga akan merevisi banyak agenda kebijakan luar negeri Trump yakni “America First” seperti pemberlakuan tarif perdagangan terhadap Eropa dan Kanada.

“Kegagalan pemerintahan Trump adalah menjadikan AS sendirian,” kata Jeffrey Prescott, mantan penasehat luar negeri pada pemerintahan Barack Obama. Tidak jelas apakah Biden akan mencabut kebijakan perang dagang terhadap China. “Dia (Biden) tidak akan mengambil posisi prematur sebelum kita memang bisa berkuasa. Namun, Biden sepertinya akan berkonsultasi dengan koalisi sebagai hal penting,” paparnya.

Ketegangan perang dagang menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Beijing. Selain itu, AS dan China juga bersitegang dalam hal virus korona, Hong Kong, pencurian hak kekayaan intelektual, hak asasi manusia (HAM), dan Laut China Selatan.

China memang menjadi isu sentral dalam kampanye presiden. Dalam kampanyenya, Trump mengklaim Biden akan mengambil pendekatan yang lunak kepada China. Tapi, Biden menyatakan dirinya akan bertindak tegas terhadap China dibandingkan Trump dan tidak khawatir menggunakan benteng perdagangan ketika masuk akal. Misalnya, pemberlakuan tarif bajak dan alumnium bagi China akan tetap diterapkan.

Ketika Trump disebut sebagai “boneka (Presiden Rusia Vladimir) Putin” karena terlalu lunak terhadap Moskow, Biden justru menunjukkan sinyal kalau dia akan bertindak tegas terhadap Rusia. “Faktanya adalah saya akan berhadapan langsung dengan Putin. Kita tidak akan mengikuti apa yang sudah dilakukan Trump. Dia (Trump) adalah bonekanya Putin,” ujarnya.

Namun, China sendiri tidak bisa mendukung salah satu capres karena semuanya tetap menganggap Beijing sebagai musuh AS. Ketika Trump dianggap tidak bisa diprediksi dalam kebijakannya terhadap China, demikian juga dengan Biden yang juga tetap akan keras terhadap Beijing.

Bagaimana dengan negara Asia lainnya? Misalnya Singapura pasti lebih memfavoritkan Biden. Dalam jajak pendapat YouGove menunjukkan 66% penduduk Singapura mendukung Biden, dan hanya 12% memberikan dukungan bagi Trump yang dianggap melakukan kebijakan yang mengerikan.

Bukan hanya di Singapura, Biden juga difavoritkan di Indonesia, Malaysia dan Australia. Dua pertiga responden di tiga negara tersebut memberikan dukungan bagi Biden dibandingkan Trump. Khusus di Indonesia, sebanyak 63% responden lebih suka dengan Biden, dan hanya 12% tertarik dengan Trump. Di Malaysia, 62% responden mendukung Biden, dan hanya 9% suka dengan Trump.

Bagaimana dengan Eropa? Sebagian besar penduduk Eropa lebih memberikan dukungan kepada Biden. Seperti di Jerman, 62% responden memberikan dukungan kepada Biden, dan hanya 10% untuk Trump. Dalam survei yang dilaksanakan Ipsos, di Prancis dan Italia juga sama. 50% responden Prancis dan 49% di Italia memberikan dukungan bagi Biden.

Dukungan bagi Biden juga kuat di Yunani, Irlandia, Finlandia, Belgia, Polandia, Swedia dan Hungaria. Di Belanda, survei yang dilaksanakan Kiekompas menunjukkan 65,5% memberikan dukungan bagi Biden dan hanya 16,5% mendukung Trump.

Ekonomi Bdo Bipe Advisory, Anne Sophie Alsif, mengatakan kepada Euronews, bahwa jika Biden terpilih, maka itu akan menjadi berita baik dibandingkan Trump. Itu dikarenakan selama empat tahun, para diplomat Uni Eropa sangat sulit berkerja sama dengan Trump. Banyak perbedaan sikap geopolitik dengan pemerintahan Trump.

“Biden tidak akan mengabaikan pengumuman praktis seperti strategi populis yang dilakukan Trump,” kata Alsif. Biden disebut akan melakukan pendekatan multikulturalisme dibandingkan Trump yang cenderung nasionalis.

Klaus W Larres, pakar hubungan internasional, menyatakan Biden diperkirakan akan menghidupkan kebijakan internasionalisme dan merekonstruksi citra buruk AS selama ini di mata aliansinya, termasuk NATO. Trump sebelumnya berulang kali mengkritik NATO dan berkeinginan untuk mengurangi kontribusi di NATO. Biden juga akan kembali bergabung dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), UNESCO dan Komisi Hak Asasi Manusia PBB.

Sementara itu, Timur Tengah justru menganggap tidak ada capres yang menguntungkan mereka. Itulah kesimpulan dari sekitar setengah dari total responden yang ditanyai dalam jajak pendapat yang dilakukan bersama oleh kelompok penelitian YouGov dan surat kabar Arab News milik Saudi.

Sebanyak 40% responden berpikir Joe Biden akan lebih baik untuk wilayah tersebut, sementara hanya 12% yang memilih Presiden Trump. Lebih dari 3.000 orang ambil bagian. Baik Donald Trump yang sedang menjabat maupun penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden tidak dianggap sebagai kandidat yang populer.

Namun, dukungan pada Biden sedikit lebih baik. Ini dipengaruhi oleh keputusan Trump yang tidak populer untuk memindahkan kedutaan AS di Israel ke Yerusalem, sesuatu yang ditentang oleh 89% dari mereka yang disurvei. Namun, kandidat petahana bernasib lebih baik di Irak dan Yaman, di mana mayoritas menyetujui sikap keras Trump terhadap Iran, termasuk dalam hal pemberian sanksi.

Sekitar 57% responden Irak mengatakan mereka menyetujui keputusan AS untuk membunuh pemimpin Pengawal Revolusi Iran Jenderal Qasem Soleimani awal tahun ini. Sementara persentase yang sama di Suriah menentangnya. Mengingat delapan tahun sebelumnya Biden menjabat di Gedung Putih sebagai wapres Presiden Obama dari 2009-2017, responden ditanya apa pendapat mereka tentang pemerintahan itu.

Sekali lagi, mereka kurang antusias, dengan mayoritas dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka yakin Presiden Obama telah membuat kawasan itu lebih buruk dan berharap Joe Biden, jika terpilih, akan menjauhkan diri dari kebijakan mantan presidennya. Namun, perlu dicatat bahwa meski tidak ada indikasi campur tangan dalam jajak pendapat, mitra survei ini adalah Arab News yang berbasis di Riyadh di Arab Saudi. Media ini beroperasi dengan pedoman editorial pemerintah.

Arab Saudi adalah saingan regional Iran dan kepemimpinan Saudi tidak pernah memaafkan Presiden Obama karena mencapai kesepakatan nuklir 2015 dengan Teheran. Kesepakatan itu, yang kemudian ditarik oleh Presiden Trump, mengeluarkan miliaran dolar dalam rekening bank yang dibekukan dengan imbalan inspeksi nuklir yang ketat.

Kebijakan imigrasi AS disinggung dalam jajak pendapat tersebut. Sekitar 75% responden berharap pemerintahan Gedung Putih berikutnya akan mempermudah orang Arab mengunjungi AS. Laporan terbaru menunjukkan banyak kaum muda Arab yang ingin pindah ke luar wilayah tersebut, terutama dari Lebanon, yang praktik korupsinya dan keruntuhan ekonominya telah menyebabkan banyak warga putus asa.(*)